عندما أحس (ذو الإصباع العدوني) بالموت دعا ابنه (أسيدا) ونصهه ببعض النصائح التي تحقق له مكانة عالية بين الناس, وتجعله فاضلا كريما محبوبا من قومه سيدا فيهم, فقال:
(( ألن جانبك لقومك يحبوك, وتواضع لهم يرفعوك, وابسط لهم وجهك يطيعوك. ولا تستأثرعليهم بشيء يسودوك, وأكرم صغارهم كما تكرم كبارهم يكرمك كبارهم ويكبر على مودتك صغارهم, واسمح بمالك, وأعزز جارك وأعن من استعان بك, وأكرم ضيفك, وصن وجهك عن مسألة أحد شيئا, فذلك يتم سؤددك)).
Ketika Dzul Isba’ Al-‘adwaniy merasakan bahwa ajalnya semakin dekat, ia memanggil putranya yang bernama Usaid. Ia memberikan nasehat yang akan menjadikan putranya berada pada kedudukan yang tinggi, menjadi pribadi yang memiliki keutamaan, kemulian, dicintai kaumnya dan menjadi pemimpin di tengah mereka. Dzul Isba’ Al-‘adwaniy berkata:
“Berbuatlah baik kepada kaummu maka mereka akan mencintaimu. Bersikaplah rendah hati maka mereka akan mengangkat derajatmu. Tampilkanlah wajah yang ramah maka mereka akan mentaati perintahmu. Utamakanlah kebutuhan orang lain sebelum dirimu maka mereka akan menjadikan mu seorang pemimpin. Muliakanlah yang muda diantara mereka sebagaimana kamu memuliakan yang tua, niscaya yang tua akan memuliakanmu dan yang muda akan tumbuh dalam kecintaan kepada mu. Sedekahkan hartamu dengan ridho. Jagalah kehormatan tetanggamu dan tolonglah mereka jika mereka meminta pertolongan kepadamu. Jagalah kehormatanmu dengan tidak meminta-minta, maka hal itu akan menyempurnakan kedudukanmu diantara mereka”.
Sebagian besar
pembaca pasti merasa asing dengan kisah wasiat ini, padahal kandungan di dalamnya bukan
hanya “nasihat orang tua untuk anak” saja, tapi ada pesan yang sangat dalam
untuk kita semua dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat di zaman sekarang. Para pembaca pasti juga
bertanya-tanya “siapa sih Dzul Isba’ ini?”. Nah, sebelum menutup pembahasan, penulis
akan menjelaskan biografi beliau secara ringkas namun menarik.
Beliau memiliki
nama asli Hurtsan bin Al-haris (حرثان بن الحارث). Lalu mengapa beliau dikenal
dengan julukan Dzul Isba’? Terdapat 2 sebab mengapa beliau dipanggil
dengan sebutan tersebut:
1. Seekor
ular yang menggigit jari kakinya sehingga jari tersebut terputus.
2. Karena
beliau memiliki jari tambahan (lebih dari 10).
Wallahu a’lam diantara kedua ini mana yang lebih sahih, namun dari sini kita tahu bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang indah dan unik sehingga kerap menjadikan suatu sebab atau peristiwa sebagai laqab (julukan) bagi seseorang.
Beliau adalah penyair dan penunggang kuda terkenal
pada zaman jahiliyyah, beliau dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan menjadi rujukan dalam memutuskan perkara di tengah kaumnya. Tidak hanya itu, Beliau diperkirakan hidup hingga menjelang masa Islam dan wafat sekitar awal abad ke-7 M.
Dari kisah dan wasiat Dzul Isba’ ini, kita belajar bahwa kebijaksanaan tidak pernah lekang oleh waktu. Meskipun beliau hidup pada masa Jahiliyyah, nilai-nilai yang beliau sampaikan tetap relevan hingga hari ini. Wasiat tersebut mengajarkan tentang kehormatan diri, kebijaksanaan dalam bersikap, serta adab dalam kehidupan bermasyarakat. Pada akhirnya, setiap zaman boleh berubah, tetapi prinsip hidup yang dilandasi kebijaksanaan akan selalu menemukan tempatnya di hati manusia.
المصدر: كتاب "الأدب" سلسلة تعليم اللغة العربية, المستوى الثالث

Tidak ada komentar:
Posting Komentar