Setiap hari manusia disuguhi daftar kesibukan yang seolah tak pernah selesai. Ada pekerjaan yang menunggu diselesaikan, impian yang ingin diwujudkan, target yang harus dicapai, dan berbagai urusan yang silih berganti memenuhi pikiran. Kita berlari dari satu agenda menuju agenda berikutnya, hingga terkadang lupa bertanya kepada diri sendiri: untuk apa semua ini?
Ironisnya, tidak semua kesibukan benar-benar membawa keuntungan. Ada kesibukan yang hanya menghabiskan umur tanpa meninggalkan jejak kebaikan, ada pula yang memuaskan ego sesaat tetapi membuat hati semakin kosong.
Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa keuntungan terbesar bukanlah banyaknya harta yang berhasil dikumpulkan atau tingginya kedudukan yang berhasil diraih. Keuntungan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu mengisi hidupnya dengan sesuatu yang paling bernilai bagi jiwanya dan paling bermanfaat bagi kehidupannya setelah dunia berakhir.
Sebab waktu adalah modal yang tak pernah kembali. Setiap detik yang berlalu bukan hanya sedang menjauhkan kita dari masa lalu, tetapi juga sedang mendekatkan kita kepada hari perjumpaan dengan Allah. Maka pertanyaan yang patut direnungkan bukan sekadar, "Seberapa sibuk aku hari ini?" melainkan, "Apa yang membuatku sibuk?"
Kesibukan yang dipenuhi ilmu, ibadah, amal saleh, menolong sesama, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah mungkin terlihat sederhana di mata manusia. Namun di sisi-Nya, bisa jadi itulah investasi yang nilainya melampaui segala keuntungan dunia.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang memenuhi setiap jam dengan aktivitas, tetapi tentang memastikan bahwa apa yang memenuhi jam-jam itu memiliki makna. Karena ada kesibukan yang hanya melelahkan tubuh, dan ada kesibukan yang justru menghidupkan hati.
Semoga Allah menjadikan waktu yang kita miliki bukan sekadar deretan hari yang berlalu, tetapi rangkaian amal yang kelak menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha mempersiapkan bekal untuk pulang kepada-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar