UKM ITTAQO UIN Salatiga

UKM ITTAQO UIN Salatiga

Senin, 15 Juni 2026

Ketika Kerinduan kepada Allah Menjadi Angin yang Menyejukkan Hati

 


Ada saat-saat ketika dunia terasa begitu riuh. Kesibukan saling mengejar, ambisi berlomba meninggi, dan kegelisahan seolah menjelma bayang-bayang yang enggan meninggalkan hati. Di tengah hiruk itu, manusia sering kali merasa lelah tanpa benar-benar memahami apa yang sedang menguras jiwanya.


Barangkali yang letih bukan tubuhnya, melainkan hatinya.


Ibnu Qayyim menggambarkan kerinduan kepada Allah sebagai nasÄ«m angin sepoi yang berembus lembut, bukan badai yang memaksa. Ia datang perlahan, namun mampu menyingkirkan sesak yang selama ini bersarang di dalam dada. Sebab kerinduan kepada Sang Pencipta bukanlah beban, melainkan ketenangan yang menghidupkan kembali hati yang mulai mengering.


Dunia memiliki panasnya sendiri. Panas karena kehilangan, karena kecewa, karena harapan yang tidak kunjung menjadi nyata, juga karena kecintaan yang berlebihan kepada sesuatu yang fana. Semakin hati bergantung kepada dunia, semakin mudah ia terbakar oleh perubahan-perubahannya.


Namun, ketika hati mulai merindukan Allah, arah pandangnya berubah. Ia tidak lagi menggantungkan seluruh bahagianya pada apa yang dimiliki, tetapi pada siapa yang selalu membersamainya. Ia menyadari bahwa segala yang ada di bumi dapat pergi kapan saja, sementara kasih sayang Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.


Kerinduan itu kemudian melahirkan banyak hal: doa yang lebih khusyuk, sujud yang lebih lama, lantunan ayat yang lebih menyentuh, dan air mata yang jatuh bukan karena putus asa, melainkan karena ingin semakin dekat kepada-Nya.


Mungkin inilah sebabnya para ulama menggambarkan cinta kepada Allah sebagai penyejuk hati. Ia tidak menghapus ujian dari kehidupan, tetapi menghadirkan ketenangan untuk menjalaninya. Luka tetap ada, tetapi tidak lagi menguasai jiwa. Kesedihan masih terasa, tetapi tidak sampai memadamkan harapan.


Pada akhirnya, kerinduan kepada Allah bukan sekadar perasaan yang hadir sesekali. Ia adalah perjalanan panjang yang membuat hati terus pulang, berkali-kali, kepada Pemiliknya. Dan di setiap langkah menuju-Nya, dunia yang semula terasa begitu panas perlahan berubah menjadi lebih teduh, seolah ada angin lembut yang berembus tanpa suara, menenangkan apa yang tidak mampu ditenangkan oleh apa pun selain mengingat-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar