Pernahkah kamu merasa harimu begitu sibuk, namun di penghujung malam, jiwamu merasa kosong? Kita seringkali terjebak dalam perlombaan mengumpulkan "keuntungan" yang kasat mata, hingga lupa bahwa ada laba yang jauh lebih abadi untuk dikejar.
Dalam sebuah nulikan indah, Ibnu Qayyim Rahimahullah mengingatkan kita:
أَعْظَمُ الرِّبْحِ أَنْ تَشْغَلَ نَفْسَكَ بِمَا هُوَ أَوْلَى وَأَنْفَعُ لَهَا فِيْ مَعَادِهَا
"Keuntungan terbesar adalah ketika engkau menyibukkan jiwamu dengan sesuatu yang lebih utama dan lebih bermanfaat baginya untuk kehidupan di akhirat".
Menyemai Benih di Ladang yang Tepat
Dunia ini hanyalah sebuah pasar persinggahan. Kita semua adalah pedagang yang sedang menjajakan waktu kita. Namun, pedagang yang paling cerdik bukanlah ia yang mendapatkan tumpukan materi paling banyak hari ini, melainkan ia yang mampu menukar detiknya dengan sesuatu yang tidak akan basi oleh zaman.
Apa itu yang "lebih utama"?
Ia adalah setiap hembusan napas yang digunakan untuk mengingat-Nya, setiap tenaga yang dikerahkan untuk menolong sesama, dan setiap pikiran yang difokuskan untuk memperbaiki diri. Saat kita menyibukkan diri dengan kebaikan untuk "hari kepulangan", kita sebenarnya sedang membangun istana di tempat yang tidak mengenal kata runtuh.
Jiwa yang Terisi, Bukan Sekadar Hari yang Sibuk
Menyibukkan diri dengan akhirat bukan berarti meninggalkan dunia. Justru, ia adalah tentang membawa niat akhirat ke dalam setiap urusan dunia kita. Menjadikan kerja sebagai ibadah, menjadikan belajar sebagai jalan mencari rida-Nya, dan menjadikan cinta sebagai jembatan menuju surga. Itulah laba yang sesungguhnya, ketenangan yang memeluk jiwa saat kita tahu bahwa apa yang kita tanam hari ini, akan kita petik di keabadian nanti.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar