UKM ITTAQO UIN Salatiga

UKM ITTAQO UIN Salatiga

Rabu, 24 Juni 2026

Jari-Jari Syukur: Seni Mengikat Angin yang Bernama Nikmat

 


Pernahkah kamu merasa kebahagiaan itu seperti pasir yang digenggam? Semakin erat kita mencoba memilikinya tanpa rasa tahu diri, ia justru semakin cepat lenyap menyelinap di antara jemari. Nikmat yang ada di sekitar kita seringkali terasa begitu rapuh, datang dan pergi tanpa sempat kita maknai.

Qarrat: Ketika Hati Menjadi Rumah yang Tenang

Kata qarrat bukan sekadar "tinggal atau menetap". Ia membawa rasa ketenangan air di dalam bejana, atau burung yang akhirnya melipat sayapnya karena telah menemukan sarang yang nyaman. 

Saat kita mengucapkan syukur bukan hanya dengan lisan, tapi melalui pengakuan jujur di bilik hati, kita sedang membangun sebuah "rumah" yang hangat bagi nikmat-nikmat tersebut. Syukur adalah tali pengikat yang lembut namun tak kasat mata. Ia membuat secangkir kopi hangat di pagi hari terasa seperti kemewahan, dan senyuman sederhana dari orang terkasih terasa seperti harta karun. Nikmat sangat nyaman tinggal bersama jiwa-jiwa yang tahu cara berterima kasih. 

Farrat: Langkah Sunyi Sebuah Pengingkaran

Sebaliknya, ada kata farrat. Ia menggambarkan sesuatu yang lari menjauh dengan cepat, seperti kijang yang terkejut atau angin yang berhembus lewat celah jendela.

Kufur, atau pengingkaran adalah sikap meremehkan apa yang sudah ada di tangan demi mengejar apa yang belum digenggam. Saat kita mulai mengeluh dan memandang rendah pemberian-Nya, di situlah nikmat perlahan berkemas. Ia pergi tanpa suara. Kadang, bentuk perginya bukan berupa hilangnya materi, melainkan dicabutnya "rasa" dari materi tersebut. Rumahnya tetap megah, namun kedamaian di dalamnya runtuh. Hartanya bertambah, namun kecemasannya justru kian berlipat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar